Renungan Harian

  • Markus 6:3

    “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria…?”

    Banyak orang Kristen masih beranggapan bahwa pekerjaan yang paling mulia di hadapan Tuhan adalah menjadi pendeta, penginjil, atau pelayan gereja sepenuh waktu. Sebaliknya, pekerjaan di dunia sekuler dianggap kurang rohani atau hanya sebagai sarana mencari nafkah. Akibatnya, sebagian orang merasa bahwa mereka baru dapat sungguh-sungguh melayani Tuhan apabila meninggalkan profesinya dan masuk ke dalam pelayanan penuh waktu.

    Namun, Alkitab memberikan gambaran yang jauh lebih luas mengenai panggilan hidup orang percaya. Tidak semua orang dipanggil menjadi pelayan gereja sepenuh waktu, tetapi semua orang dipanggil untuk melayani Tuhan melalui pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka. Baik sebagai petani, guru, dokter, pengusaha, pegawai negeri, karyawan, ibu rumah tangga, teknisi, maupun pendeta, setiap profesi dapat menjadi pelayanan yang memuliakan Allah apabila dilakukan dengan motivasi yang benar.

    Sebelum memulai pelayanan-Nya di depan umum, Tuhan Yesus terlebih dahulu menjalani kehidupan sebagai seorang tukang kayu. Penduduk Nazaret mengenal-Nya sebagai “tukang kayu.” (Markus 6:3) Ia bekerja dengan tekun, hidup sederhana, dan bertanggung jawab. Tradisi gereja mula-mula juga memahami bahwa Yusuf kemungkinan telah meninggal sebelum pelayanan Yesus dimulai. Karena itu, sebagai anak sulung, Yesus kemungkinan besar ikut menopang kehidupan Maria dan adik-adik-Nya. Walaupun Alkitab tidak menceritakannya secara rinci, kehidupan Yesus menunjukkan bahwa bekerja tidak pernah bertentangan dengan kekudusan. Sebaliknya, melalui kesetiaan dalam pekerjaan sehari-hari, Ia memuliakan Bapa.

    Hal yang sama terlihat dalam kehidupan Rasul Paulus. Walaupun dipakai Tuhan secara luar biasa untuk memberitakan Injil, Paulus tetap bekerja sebagai pembuat kemah bersama Akwila dan Priskila (Kisah Para Rasul 18:3). Ia tidak selalu bergantung pada jemaat, melainkan menunjukkan bahwa pekerjaan dan pelayanan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru melalui pekerjaannya, Paulus memperlihatkan tanggung jawab, kerendahan hati, dan kasih kepada jemaat. Karena itu, tidak semua orang dipanggil menjadi pelayan gereja sepenuh waktu. Sebagian besar orang percaya justru ditempatkan Allah di kantor, sekolah, rumah sakit, perusahaan, pasar, pabrik, kampus, dan berbagai bidang profesi untuk menjadi terang Kristus. Tempat kerja adalah ladang pelayanan yang Tuhan percayakan. Di sanalah kita belajar hidup jujur ketika orang lain memilih jalan yang curang, sabar ketika menghadapi tekanan, mengampuni ketika menghadapi rekan kerja yang sulit, serta mengasihi melalui pelayanan kepada pelanggan, pasien, murid, atau masyarakat.

    Jangan pernah merasa bahwa pekerjaan Anda kurang berarti di hadapan Tuhan. Selama pekerjaan itu dilakukan dengan cara yang benar dan tidak bertentangan dengan firman Tuhan, pekerjaan tersebut memiliki nilai kekal apabila dipersembahkan bagi kemuliaan Allah. Lebih dari itu, hasil pekerjaan kita juga dipakai Tuhan untuk mendukung pekerjaan Kerajaan-Nya. Melalui berkat yang Tuhan percayakan, kita dapat menolong mereka yang membutuhkan, mendukung pelayanan gereja, mengutus misionaris, membantu pendidikan, memperhatikan kaum miskin, dan mengambil bagian dalam penyebaran Injil.

    Karena itu, bekerja memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar mencari penghasilan. Setiap berkat yang diperoleh dengan jujur dapat menjadi alat untuk memuliakan Tuhan apabila dikelola dengan bijaksana. Sebaliknya, kemalasan dan hidup yang tidak produktif membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menjadi berkat bagi sesama. Allah memanggil kita bukan untuk menjadi beban, melainkan untuk menopang orang lain. Seperti yang ditulis Rasul Paulus, “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35)

    Pada akhirnya, Alkitab mengarahkan pandangan kita kepada kekekalan. Orang yang setia dalam perkara kecil akan dipercayai perkara yang lebih besar (Matius 25:21). Kesetiaan dalam pekerjaan hari ini merupakan bagian dari proses Allah membentuk karakter, integritas, dan tanggung jawab kita untuk mengambil bagian dalam pemerintahan Kristus di langit dan bumi yang baru. Karena itu, jangan memisahkan pekerjaan dan pelayanan. Jadikan kantor sebagai tempat kesaksian, usaha sebagai ladang pelayanan, rumah sebagai tempat menghidupi kasih Kristus, dan setiap tugas sebagai persembahan kepada Allah. Apa pun profesi kita, selama dilakukan dengan iman, kasih, dan integritas, pekerjaan itu menjadi ibadah yang berkenan kepada Tuhan.

    Kiranya setiap kali kita mengucapkan doa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” kita diingatkan bahwa Allah bukan hanya menyediakan kebutuhan kita, tetapi juga memanggil kita untuk bekerja dengan setia, mengelola berkat-Nya dengan bijaksana, serta memakai seluruh hidup kita bagi kemuliaan nama-Nya dan kemajuan Kerajaan-Nya.

  • Amsal 6:6

    “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak.”

    Salah satu tantangan terbesar dalam kehidupan manusia bukanlah kurangnya kemampuan, melainkan kurangnya kemauan untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Kemalasan sering kali dianggap hanya sebagai kelemahan karakter atau kebiasaan buruk. Padahal, Alkitab memandangnya jauh lebih serius. Kemalasan bukan sekadar persoalan etos kerja, melainkan persoalan spiritual. Orang yang malas sedang menolak salah satu tujuan Allah menciptakan manusia.

    Sejak awal penciptaan, Allah menempatkan manusia di Taman Eden untuk mengusahakan dan memeliharanya (Kej. 2:15). Dengan demikian, bekerja merupakan bagian dari identitas manusia sebagai gambar Allah. Ketika seseorang menolak bekerja padahal ia mampu, ia bukan hanya mengabaikan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarganya, tetapi juga menyangkal panggilan yang Allah berikan kepadanya. Karena itu, Kitab Amsal berulang kali memperingatkan bahwa kemalasan mendatangkan kemiskinan dan kehancuran, sedangkan kerajinan menghasilkan berkat dan kepercayaan.

    Untuk menggambarkan hal ini, Salomo menunjuk kepada semut. “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak.” Semut adalah makhluk kecil, tetapi memiliki etos kerja yang luar biasa. Ia tidak menunggu diperintah, melainkan bekerja dengan tekun, memanfaatkan kesempatan, mempersiapkan masa depan, dan menjalankan tugasnya dengan disiplin. Jika semut saja rajin bekerja sesuai dengan nalurinya, betapa lebih lagi manusia yang telah diciptakan menurut gambar Allah dan dikaruniai akal budi, hikmat, serta berbagai talenta.

    Kemalasan tidak selalu tampak dalam bentuk tidak bekerja sama sekali. Seseorang dapat terlihat sibuk setiap hari, tetapi sesungguhnya tidak produktif karena gemar menunda pekerjaan, menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting, mencari alasan, atau menggantungkan tanggung jawabnya kepada orang lain. Alkitab mengajarkan bahwa bekerja harus dilakukan dengan rajin, tekun, dan penuh tanggung jawab. Perintah kedelapan dalam Sepuluh Hukum Allah, “Jangan mencuri” (Kel. 20:15), juga mengandung panggilan untuk bekerja. Salah satu alasan seseorang tergoda mencuri adalah keinginan memperoleh hasil tanpa jerih payah. Allah menghendaki agar manusia memperoleh apa yang dimilikinya melalui kerja yang jujur, bukan dengan mengambil milik orang lain. Karena itu, bekerja bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga soal integritas.

    Prinsip yang sama ditegaskan Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika: “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2 Tes. 3:10). Paulus tidak berbicara mengenai orang yang tidak dapat bekerja karena usia, sakit, disabilitas, atau keadaan tertentu. Mereka layak menerima perhatian dan pertolongan. Yang ditegur adalah orang yang tidak mau bekerja padahal memiliki kemampuan dan kesempatan. Pada waktu itu ada orang-orang yang berhenti bekerja karena salah memahami pengharapan akan kedatangan Kristus. Paulus menegaskan bahwa iman yang benar tidak membuat seseorang menjadi pasif, tetapi justru mendorongnya hidup lebih bertanggung jawab, mandiri, dan mampu menolong mereka yang berkekurangan.

    Melalui pekerjaan, Allah juga membentuk karakter kita. Di dalamnya kita belajar sabar menghadapi kesulitan, rendah hati menerima koreksi, tekun ketika hasil belum terlihat, dan berintegritas saat tidak ada orang yang mengawasi. Namun, kerajinan juga tidak boleh berubah menjadi penyembahan terhadap pekerjaan. Ada orang yang begitu sibuk bekerja sehingga melupakan keluarga, kesehatan, bahkan hubungannya dengan Tuhan. Alkitab mengajarkan keseimbangan: bekerja dengan rajin, tetapi tetap mengandalkan Tuhan dan menjaga prioritas hidup. Kerja keras harus lahir dari hati yang takut akan Allah, bukan dari ambisi yang egois. Sebagai orang percaya, kita dipanggil menjadi pribadi yang dapat dipercaya. Ketika orang lain melihat kehidupan kita, mereka seharusnya melihat seseorang yang jujur, bertanggung jawab, menyelesaikan tugas dengan baik, dan tidak mudah menyerah. Kesaksian seperti ini sering kali berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Dunia membutuhkan orang-orang percaya yang bukan hanya pandai berbicara tentang iman, tetapi juga menunjukkan iman itu melalui etos kerja yang unggul.

    Hari ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada sikap malas yang kita pelihara? Apakah kita sering menunda pekerjaan, mengeluh, atau mengerjakan sesuatu dengan asal-asalan? Jika ya, mintalah Tuhan mengubah hati kita. Ia sanggup memberikan semangat baru untuk bekerja dengan tekun dan setia. Kiranya kita menjadi orang-orang yang rajin, bukan demi pujian manusia, melainkan karena kita ingin menghormati Allah yang telah memanggil kita menjadi rekan sekerja-Nya. Ketika kita setia dalam perkara-perkara kecil hari ini, Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk tanggung jawab yang lebih besar di dalam Kerajaan-Nya.

  •  

    Kejadian 2:15

    “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam Taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

    Banyak orang memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang melelahkan, bahkan sebagai kutukan akibat dosa. Tidak sedikit yang menganggap bahwa kehidupan ideal adalah hidup tanpa bekerja—memiliki semua yang dibutuhkan tanpa harus bersusah payah. Dalam pandangan seperti ini, bekerja hanyalah sarana untuk memperoleh uang, sedangkan ibadah adalah aktivitas rohani yang dilakukan di gereja. Akibatnya, pekerjaan dan ibadah ditempatkan dalam dua dunia yang berbeda. Namun, Alkitab memberikan perspektif yang sangat berbeda. Jauh sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Allah sudah memberikan pekerjaan kepada Adam. Ketika menempatkannya di Taman Eden, Allah memerintahkan manusia untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Perintah ini diberikan ketika dunia masih sempurna, belum ada kutuk, penderitaan, dan dosa. Dengan demikian, bekerja bukanlah akibat kejatuhan manusia, melainkan bagian dari rancangan Allah sejak semula.

    Kata “mengusahakan” dalam Kejadian 2:15 diterjemahkan dari kata Ibrani ‘avad (עָבַד), yang berarti bekerja, melayani, atau mengerjakan sesuatu. Dari kata yang sama lahir kata ‘avodah (עֲבֹדָה), yang berarti “pekerjaan,” tetapi juga “ibadah” atau “pelayanan kepada Allah.” Dalam Keluaran 12:25, misalnya, kata ini dipakai untuk menggambarkan ibadah Paskah yang harus dipelihara oleh bangsa Israel. Hal ini menunjukkan bahwa dalam cara pandang Alkitab, bekerja dan beribadah bukanlah dua hal yang terpisah. Bekerja adalah bentuk pelayanan kepada Allah ketika dilakukan sesuai dengan kehendak-Nya.

    Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, cara pandang terhadap pekerjaan berubah. Pekerjaan mulai dianggap hanya sebagai kewajiban yang berat atau alat untuk mencari nafkah, sedangkan ibadah dipahami sebatas berdoa, bernyanyi, dan menghadiri kebaktian. Padahal, kehidupan orang percaya tidak dapat dipisahkan antara yang rohani dan yang jasmani. Seluruh hidup adalah milik Tuhan, termasuk pekerjaan kita setiap hari. Allah sendiri adalah Pribadi yang bekerja. Kitab Kejadian dimulai dengan gambaran tentang Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh hikmat, keteraturan, dan kreativitas. Setelah menciptakan dunia, Ia tidak meninggalkan ciptaan-Nya, tetapi terus memelihara, menopang, dan mengatur seluruh alam semesta. Karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, bekerja menjadi bagian dari identitas manusia. Melalui karya, kreativitas, tanggung jawab, dan pengelolaan ciptaan, manusia dipanggil untuk mencerminkan karakter Penciptanya.

    Melalui pekerjaan, manusia diajak menjadi rekan sekerja Allah dalam mengembangkan dunia yang telah Ia ciptakan. Allah menyediakan bahan mentah, sedangkan manusia dipanggil untuk mengolahnya. Pohon diolah menjadi rumah, kapas menjadi pakaian, tanah digarap menjadi ladang, ide dikembangkan menjadi teknologi, dan pengetahuan dipakai untuk menolong kehidupan manusia. Semua itu merupakan bagian dari mandat budaya yang Allah berikan sejak awal. Karena itu, bekerja bukan sekadar menghasilkan sesuatu, tetapi juga menghadirkan keteraturan, keindahan, dan kesejahteraan bagi dunia. Setiap profesi yang dilakukan dengan jujur memiliki nilai yang mulia di hadapan Allah. Petani yang mengolah sawah dengan tekun, guru yang mendidik dengan kasih, dokter yang merawat pasien dengan sepenuh hati, pegawai yang bekerja dengan integritas, atau ibu yang mengelola rumah tangga dengan setia—semuanya sedang menjalankan panggilan ilahi apabila dilakukan untuk kemuliaan Tuhan.

    Kesadaran ini mengubah cara kita memandang pekerjaan. Kita tidak lagi bekerja hanya demi gaji, jabatan, atau pengakuan manusia, melainkan untuk memuliakan Allah melalui kesetiaan dalam mengerjakan apa yang telah dipercayakan-Nya. Ketika menghadapi tekanan, target, konflik, kelelahan, dan kekecewaan, kita pun tidak mudah kehilangan semangat. Jika bekerja adalah ibadah, setiap tantangan menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam kesabaran, kejujuran, ketekunan, dan kesetiaan kepada Tuhan. Alkitab juga memberi pengharapan bahwa pekerjaan bukanlah sesuatu yang hanya berlaku di dunia sekarang. Di langit dan bumi yang baru, umat Allah tetap akan melayani Dia dan mengambil bagian dalam pemerintahan-Nya. Kreativitas, tanggung jawab, dan pelayanan akan terus menjadi bagian dari kehidupan umat Allah dalam kekekalan. Pekerjaan yang kita lakukan hari ini menjadi latihan untuk kesetiaan yang lebih besar dalam Kerajaan Allah.

    Karena itu, jangan pernah meremehkan pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada kita. Dunia mungkin mengukur pekerjaan berdasarkan besar kecilnya penghasilan atau tinggi rendahnya jabatan. Namun, Allah mengukurnya berdasarkan kesetiaan, integritas, dan motivasi hati. Di mata Tuhan, pekerjaan yang sederhana sekalipun dapat menjadi ibadah yang harum apabila dilakukan dengan kasih dan ketaatan. Hari ini, marilah kita memperbarui cara pandang kita. Ketika kita berangkat ke kantor, mengajar di kelas, mengelola usaha, bertani, berdagang, mengurus rumah tangga, atau melakukan pekerjaan apa pun, kita sedang datang ke “altar” tempat kita menyembah Allah melalui kerja yang setia. Pekerjaan bukanlah penghalang untuk beribadah. Justru di sanalah ibadah diwujudkan dalam kehidupan nyata.

    Kiranya setiap hari kita dapat berkata, “Tuhan, hari ini aku bekerja bukan hanya untuk manusia atau untuk memperoleh penghasilan, tetapi untuk memuliakan nama-Mu.” Dengan demikian, pekerjaan kita menjadi persembahan yang hidup bagi Allah dan kesaksian yang nyata bagi dunia.

  • Matius 6:11

    “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”

    Ketika membaca permohonan ini dalam Doa Bapa Kami, banyak orang memahami bahwa tugas orang percaya hanyalah berdoa, sementara Allah akan memenuhi semua kebutuhan hidup secara otomatis. Pemahaman seperti ini sering kali melahirkan sikap pasif. Orang menunggu berkat datang dari langit tanpa merasa perlu mengerjakan tanggung jawabnya. Namun, benarkah demikian maksud Tuhan Yesus?

    Untuk memahami ayat ini dengan benar, kita tidak boleh melepaskannya dari keseluruhan pengajaran Tuhan Yesus maupun isi Doa Bapa Kami. Doa ini bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan setiap hari, melainkan pola hidup yang membentuk setiap anak Allah. Setiap kalimatnya mengandung nilai-nilai Kerajaan Allah yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Permohonan, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” bukanlah alasan untuk bermalas-malasan atau menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada Allah. Sebaliknya, doa ini mengajarkan bahwa kita bergantung kepada Allah sambil mengerjakan bagian yang telah dipercayakan-Nya kepada kita. Ketika kita menyebut Allah sebagai “Bapa kami yang di sorga,” kita mengakui bahwa kita adalah anggota keluarga-Nya. Dalam keluarga yang sehat, setiap anggota memiliki tanggung jawab. Hubungan dengan Bapa bukanlah hubungan antara pelanggan dan penyedia jasa. Kita datang kepada Allah bukan hanya untuk menerima, melainkan sebagai anak-anak yang ikut mengambil bagian dalam pekerjaan Bapa dan rencana-Nya.

    Sejak awal penciptaan, Allah telah memberikan mandat kepada manusia untuk mengelola bumi. Segala sumber daya memang berasal dari Tuhan, tetapi manusia dipanggil untuk mengolahnya. Makanan yang kita nikmati setiap hari merupakan hasil dari kerja banyak orang yang mengusahakan ciptaan Allah. Karena itu, ketika kita berdoa, “Berikanlah kami makanan kami,” sesungguhnya kita memohon agar Allah memberkati pekerjaan tangan kita, memberikan kesehatan, hikmat, kesempatan, dan penyertaan-Nya sehingga kita dapat memperoleh rezeki melalui usaha yang benar. Allah tetap menjadi sumber segala berkat, tetapi Ia sering kali menyatakannya melalui pekerjaan yang kita lakukan. Mukjizat-Nya tidak menghapus tanggung jawab manusia, melainkan bekerja melalui kesetiaan manusia.

    Di zaman sekarang, ada kecenderungan sebagian orang mengukur kerohanian dari banyaknya doa, tetapi mengabaikan etos kerja. Mereka rajin beribadah, tetapi kurang bertanggung jawab dalam pekerjaan. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa doa dan kerja bukanlah dua hal yang bertentangan. Orang percaya dipanggil menjadi pribadi yang tekun berdoa sekaligus rajin bekerja. Ketergantungan kepada Allah bukan berarti berhenti berusaha, melainkan bekerja dengan penuh pengharapan karena percaya Tuhan menyertai setiap jerih lelah kita.

    Lebih dari itu, bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Allah memakai setiap pekerjaan sebagai sarana untuk memelihara dunia dan memberkati sesama. Seorang guru mendidik generasi muda, seorang dokter merawat orang sakit, seorang petani menghasilkan pangan, seorang pengusaha membuka lapangan pekerjaan. Bahkan pekerjaan yang tampak sederhana sekalipun dapat menjadi saluran kasih Allah bagi banyak orang. Karena itu, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan mengambil bagian dalam pemeliharaan Allah atas ciptaan-Nya.

    Hari ini, marilah kita mengevaluasi diri. Apakah selama ini kita hanya meminta Tuhan memberkati hidup kita, tetapi kurang setia mengerjakan bagian yang telah dipercayakan-Nya? Ataukah kita sudah bekerja dengan sungguh-sungguh sambil menyerahkan hasilnya kepada Tuhan? Kiranya setiap kali kita mengucapkan, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” kita diingatkan bahwa Allah memanggil kita bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk bekerja dengan rajin, bertanggung jawab, dan setia. Dengan demikian, melalui pekerjaan kita, nama Bapa dimuliakan dan banyak orang merasakan kebaikan-Nya.

  • Matius 6:34

    “Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

    Banyak orang merasa perlu untuk memandang jauh ke depan dalam pemenuhan kebutuhan jasmani dan kesuksesan duniawi. Namun, ironisnya, tidak banyak orang yang memandang jauh ke depan dalam hal keselamatan yang kekal. Lebih banyak orang yang memperhatikan perkara dunia yang sementara daripada kehidupan kekal.

    Sesungguhnya, dengan mengajarkan kita untuk mengatakan, “Berikanlah kami pada hari ini,” Tuhan Yesus juga sedang mengajarkan agar kita tidak perlu memandang jauh ke depan dalam hal-hal yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Lebih penting bagi kita untuk memperhatikan keselamatan yang kekal. Kata “hari ini” sungguh bermakna manakala kita menghayati nilai kekekalan, sebab kata “hari ini” justru semakin meneguhkan betapa singkatnya hidup di bumi ini. Yesus juga mengatakan dalam Matius 6:34, “Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

    Sebagaimana setiap hari memiliki kesulitannya sendiri, demikian pula setiap hari memiliki berkat yang mampu menopang kita untuk menghadapi kesulitan tersebut. Jangan khawatir akan kehidupan hari esok, karena hari esok mempunyai kesulitannya sendiri. Namun, Tuhan juga akan menyediakan apa yang kita butuhkan pada hari esok. Kebenaran ini tidak otomatis membuat kita menjadi ceroboh. Sebagai manusia yang bertanggung jawab, kita tetap harus berjaga-jaga untuk menyongsong hari esok. Selain bekerja keras, kita juga perlu berhemat, menabung, berinvestasi, dan berasuransi. Namun, kita menyongsong hari esok tanpa rasa khawatir sebab kita yakin akan pemeliharaan Tuhan pada hari esok.

    Inilah yang membedakan kita dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Memang manusia mempunyai kecenderungan untuk khawatir mengenai hari esok. Banyak orang menyukai ramalan dan horoskop karena ingin memperoleh kepastian mengenai apa yang akan dihadapinya pada hari esok dan hari-hari yang akan datang. Namun, bagi kita sebagai anak-anak Allah, pemenuhan kebutuhan jasmani, separah apa pun keadaannya, tidak menjadi masalah. Sebaliknya, sebanyak apa pun harta kita, hal itu tidak akan berdampak signifikan terhadap hidup ini, karena kita tahu bahwa hidup manusia tidak bergantung pada kekayaannya.

    Dengan kata “hari ini,” Tuhan menghendaki agar kita tidak perlu memandang jauh ke depan di bumi ini berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, supaya kita memiliki fokus kepada langit baru dan bumi baru. Memindahkan hati kepada langit baru dan bumi baru bukanlah perkara yang mudah. Bahkan, hal ini menjadi mustahil jika fokus kita masih pada kehidupan yang aman dan nyaman di bumi ini.

    Memfokuskan diri kepada langit baru dan bumi baru tidak membuat kita menjadi orang yang nyentrik. Kalau hidup kita dimotivasi oleh pengharapan akan langit baru dan bumi baru, karakter kita akan diubahkan oleh Roh Kudus menjadi baik. Dengan demikian, kita pun akan mengoptimalkan potensi diri, bekerja giat di bumi ini, dan menjadi orang yang berhasil.

  • Untuk hidup bergantung kepada Tuhan, kita harus berani melakukan sebuah pertukaran. Kita rela melepaskan berbagai kesenangan dan kegemaran yang selama ini menguasai hati kita, lalu menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber sukacita yang sejati. Hanya Dialah yang seharusnya menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidup kita. Perjumpaan dengan Tuhan bukanlah sesuatu yang bersifat khayalan atau dongeng, melainkan pengalaman nyata yang dapat dialami oleh setiap orang yang sungguh-sungguh mencari-Nya.

    Ketika seseorang mengalami perjumpaan yang nyata dengan Tuhan, Roh Kudus akan mengaruniakan hikmat kepadanya. Hikmat itu bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi menerangi hati dan pikirannya sehingga mampu membedakan kebenaran dari kepalsuan, serta mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, marilah kita berkomitmen untuk menjadikan Tuhan sebagai kebutuhan kita setiap hari. Semakin kita hidup dekat dengan-Nya, semakin mata hati kita dimurnikan untuk menyadari bahwa Dialah tujuan hidup kita yang sejati.

    Namun, ketergantungan kepada Tuhan tidak berarti mengabaikan tanggung jawab yang telah Allah percayakan kepada kita. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab. Tidak mungkin kita dapat bermalas-malasan dan tidur-tiduran saja, lalu ketika kita berseru memohon berkat kepada-Nya, Ia mencurahkan berkat-Nya. Ia menginginkan kita bekerja mencari nafkah dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak menghendaki kita hidup bermalas-malasan sambil menunggu berkat turun dari langit. Sebaliknya, Ia memanggil kita untuk bekerja dengan tekun, mengembangkan potensi yang telah dikaruniakan-Nya, dan mengusahakan kehidupan dengan penuh tanggung jawab.

    Kita yakin bahwa Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang bertanggung jawab. Masalahnya adalah, apakah hubungan antara tanggung jawab manusia mencari nafkah dan ketergantungan manusia kepada Tuhan? Lalu, bagaimana hubungan antara tanggung jawab manusia untuk bekerja dan ketergantungannya kepada Tuhan?

    Dengan kalimat “Berikanlah kami pada hari ini,” kita menemukan adanya hubungan antara keduanya. Keduanya bukanlah hal yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Sementara kita bekerja dengan sungguh-sungguh, kita tetap mengakui bahwa setiap kemampuan, kesempatan, kekuatan, dan hasil yang kita peroleh berasal dari anugerah Tuhan. Ketergantungan kepada Allah membuat kita terus menerima pembentukan rohani dari-Nya. Di situlah mental dan karakter kita dibentuk agar semakin serupa dengan kehendak-Nya. Sementara kita bergantung kepada Tuhan, kita juga menyerap berkat-berkat rohani dari-Nya. Di sinilah mental kita diubahkan-Nya. Memang, setelah mental seseorang diubahkan, tidak otomatis ia lantas menjadi kaya raya. Akan tetapi, mental ini akan membuatnya mau bekerja dan mengoptimalkan diri untuk mencari nafkah.

    Jadi, ada dua wilayah hidup yang harus kita penuhi. Pertama, wilayah tanggung jawab. Di wilayah ini kita dipanggil untuk bekerja, belajar, berkarya, dan mengusahakan segala sesuatu dengan penuh kesungguhan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Kedua, wilayah ketergantungan kepada Tuhan. Di wilayah ini kita membangun persekutuan yang intim dengan-Nya, menyadari bahwa tanpa anugerah-Nya kita tidak dapat melakukan apa pun yang bernilai kekal. Orang yang memahami keseimbangan antara tanggung jawab dan ketergantungan akan membangun karakter yang sehat. Ia bekerja dengan maksimal, tetapi tidak mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, tetapi tidak menjadikan ketergantungan itu sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Seluruh hidupnya dipersembahkan bagi Tuhan.

    Oleh sebab itu, marilah kita menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan ketergantungan kepada Tuhan. Jangan terjebak pada dua ekstrem: mengaku bergantung kepada Tuhan tetapi enggan bekerja keras, atau bekerja keras tanpa mengandalkan Tuhan. Kehidupan yang berkenan kepada Allah adalah kehidupan yang memadukan keduanya—bekerja dengan segenap kemampuan yang Tuhan berikan, sambil tetap menyadari bahwa hanya Dialah sumber kekuatan, hikmat, dan segala berkat dalam hidup kita.

  • Mazmur 73:25–26

    “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.”

    Dalam perjalanan kehidupan Kekristenan pada zaman sekarang, kita harus selalu meningkatkan kesadaran dan kebutuhan yang sangat kuat akan tuntunan Tuhan. Jangan sampai ketika sudah berada dalam keadaan terancam, bahaya, dan kritis, barulah kita merasa terdesak dan sangat membutuhkan Tuhan. Justru ketika keadaan masih aman dan tenteram, saat seakan-akan kita bisa berjalan sendiri tanpa pertolongan Tuhan, kita tetap perlu mencari Dia. Hal itu membuktikan bahwa kita sungguh membutuhkan-Nya.

    Orang yang mencari Tuhan dan merasa membutuhkan Tuhan hanya pada saat berada dalam bahaya atau krisis sesungguhnya memperlakukan Tuhan secara tidak pantas. Ia menjadikan Tuhan hanya sebagai tempat pelarian. Hal itu menandakan bahwa orang tersebut tidak sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan di dalam hidupnya, melainkan hanya ingin lepas dari permasalahan yang dihadapinya. Dengan kata lain, orang yang datang kepada Tuhan karena menghadapi masalah sebetulnya memberhalakan masalah itu. Demikian pula, orang yang datang kepada Tuhan hanya demi memperoleh sesuatu sesungguhnya sedang menempatkan kebutuhannya lebih tinggi daripada Pribadi Tuhan sendiri. Sebaliknya, anak-anak Allah yang dewasa akan memiliki kerinduan yang terus-menerus untuk hidup dekat dengan Tuhan. Ketergantungan kepada Allah bukanlah sesuatu yang muncul sesekali, melainkan menjadi irama kehidupan setiap hari.

    Ada beberapa ciri orang yang hidup dalam ketergantungan kepada Tuhan. Pertama, ketika menghadapi persoalan, ia tetap datang dan berseru kepada Tuhan, tetapi bukan karena panik atau putus asa. Ia berdoa dengan hati yang tenang karena telah mengenal pemeliharaan Allah yang setia. Ia percaya bahwa sebelum ia meminta pun, Bapa di surga telah mengetahui segala kebutuhannya (Matius 6:8). Dalam hal ini, doa yang diucapkannya lahir dari hubungan yang intim, bukan sekadar karena keadaan yang mendesak. Kedua, apabila suatu hari ia berada di ambang kematian, ia tidak dipenuhi penyesalan karena merasa belum mulai hidup bagi Tuhan. Ia telah mempersembahkan hidupnya setiap hari bagi Allah. Jika Tuhan masih memberikan waktu, itu adalah kesempatan untuk terus memuliakan-Nya. Jika Tuhan memanggilnya pulang, ia siap karena hidupnya telah dijalani dalam kesetiaan.

    Karena itu, ketika Tuhan Yesus mengajarkan kita berdoa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Matius 6:11), doa tersebut bukan sekadar permohonan akan kebutuhan jasmani. Doa itu mengajarkan bahwa setiap hari kita hidup dalam ketergantungan kepada Bapa. Kita mengakui bahwa setiap napas, setiap berkat, dan setiap hari yang kita jalani adalah pemberian anugerah-Nya. Allah membuka tangan-Nya untuk memelihara, membimbing, dan memeluk setiap anak-Nya. Betapa besar kasih karunia itu. Jangan sampai kita menyia-nyiakan undangan-Nya untuk hidup dekat dengan-Nya. Sebab kesempatan untuk mengenal Tuhan adalah anugerah yang tidak ternilai harganya.

    Marilah kita menjadikan kebutuhan akan Allah sebagai irama kehidupan setiap hari. Jangan biarkan ada satu hari pun berlalu tanpa persekutuan yang sungguh-sungguh dengan-Nya. Ketika hubungan kita dengan Tuhan terus dipelihara, kita akan semakin memahami bahwa tujuan utama kita datang kepada-Nya bukanlah sekadar memperoleh berkat, pertolongan, atau pemenuhan kebutuhan, melainkan menikmati Pribadi-Nya sendiri sebagai sumber kehidupan.