Renungan Harian
-
Mukjizat Besar dalam Kerumunan Kecil
26 October 2026
Kembali pada kisah Yairus dan anaknya yang telah meninggal. Dalam Matius 9:23–26 digambarkan bahwa Yesus telah tiba di rumah Yairus. Atmosfer rumah tersebut telah berubah menjadi kelam. Anak Yairus telah tiada. Matius menggambarkan adanya para peniup seruling dan orang banyak yang menyampaikan syair ratapan. Pada zaman dahulu, menjadi sebuah kebiasaan bahwa orang-orang di sekitar orang yang meninggal akan meneriakkan ratapan yang berisi kata-kata khusus. Mereka dapat disebut sebagai sidang perkabungan. Di dalam ratapan tersebut, sidang perkabungan juga meneriakkan nama mendiang. Kebiasaan ini dapat dilacak paling tidak sejak zaman Raja Yosia (2 Tawarikh 35:25).
Terhadap suasana yang demikian kelabu, Yesus melakukan sesuatu yang tidak biasa. Ia mengusir seluruh orang yang meratap itu. Yesus seakan menolak untuk meratapi anak tersebut. Alasannya sederhana: bagi Yesus, anak itu tidak mati, melainkan tidur. Ketika Ia menyampaikan hal itu kepada orang banyak, mereka tertawa. Semua orang sudah sangat yakin bahwa anak Yairus telah meninggal. Tidak tertutup kemungkinan orang tua anak itu, Yairus dan istrinya, juga telah berpikir demikian. Namun, ketika semua orang telah pergi, keajaiban terjadi. Anak itu bangkit dari tempat tidurnya seolah-olah benar-benar baru saja bangun dari tidur.
Satu hal yang menarik dari bagian akhir narasi tentang Yairus ini adalah mengapa Yesus harus mengusir semua orang terlebih dahulu sebelum membangkitkan anak tersebut dalam kuasa Roh Kudus. Paling tidak, ada dua kemungkinan jawaban. Pertama, tindakan Yesus mengusir sidang perkabungan tersebut merupakan tindakan proklamatif atas kematian. Bahwa bersama dengan Roh Allah yang hidup, kematian bukanlah musuh yang menakutkan. Yesus hendak memproklamasikan bahwa Bapa adalah Allah orang hidup, bukan Allah orang mati. Mengusir sidang perkabungan merupakan pernyataan bahwa di dalam Allah tidak ada kematian.
Jawaban kedua yang mungkin adalah Yesus tidak ingin mukjizat itu diketahui oleh terlalu banyak orang. Ia ingin sebisa mungkin mukjizat tersebut dilakukan dalam keheningan. Semakin banyak orang yang mengetahui mukjizat itu, semakin besar pula kemungkinan maksud kedatangan-Nya disalahpahami. Ia dapat dipandang sebagai Mesias jasmani yang membebaskan Israel secara politis dan lahiriah. Sebaliknya, semakin sedikit orang yang mengetahui mukjizat tersebut, semakin kecil pula kemungkinan kesalahpahaman yang muncul. Lalu, manakah tafsiran yang lebih tepat? Keduanya memiliki makna yang menarik. Namun, jika dilihat dari alur narasi Matius, tampaknya jawaban kedua lebih kuat. Sebab, dalam perikop selanjutnya ketika Yesus menyembuhkan mata dua orang buta, Ia berpesan kepada mereka agar mukjizat yang dilakukan-Nya tidak diketahui oleh orang lain (Matius 9:30). Nampaknya, keinginan Yesus agar kedatangan-Nya tidak disalahpahami lebih sesuai dengan alur pemikiran Injil Matius.
Apa pelajarannya bagi kita? Tuhan menghendaki kita melayani dalam keheningan. Sebesar apa pun pelayanan itu, segemilang apa pun prestasi rohani kita, Tuhan ingin kita melayani-Nya tanpa mencari sorotan. Membangkitkan orang mati bukanlah mukjizat yang biasa. Meski demikian, Yesus memilih hanya sedikit orang untuk menjadi saksi dari perbuatan itu. Ia tidak ingin orang-orang terfokus pada mukjizat yang dilakukan-Nya dalam kuasa Roh Kudus. Ia lebih menghendaki agar mereka terfokus pada kebenaran yang mengubahkan hidup. Ini bukan berarti orang yang diubahkan oleh kebenaran tidak dapat mengalami mukjizat. Jika kita membutuhkannya, Tuhan pasti sanggup memberikannya. Namun, itulah bukan tujuan utama mengikut Yesus. Mengikut Yesus berarti mengalami perubahan hidup agar semakin serupa dengan Dia dalam segala hal. Salah satu penghalang besar bagi perubahan hidup tersebut adalah ketika seseorang terlalu terpaku pada mukjizat. Itulah sebabnya Yesus tidak ingin orang banyak mengetahuinya, karena hal itu dapat menghalangi misi utama-Nya, yaitu mengubah manusia. Sikap yang sama seharusnya kita miliki, yaitu memandang seluruh pencapaian pelayanan kita sebagai sesuatu yang kecil dibandingkan pelayanan Tuhan kepada kita.
Alasan lain yang dapat dikemukakan adalah bahwa Yesus ingin menghindari kejatuhan dalam dosa. Mukjizat tersebut dapat membuat-Nya diagungkan oleh banyak orang sehingga berpotensi mengaburkan kemuliaan Bapa. Dalam konteks ini, pengosongan diri (kenosis) dapat menjadi gagal. Hal ini tampak dalam kisah ketika Yesus hendak dijadikan raja, tetapi Ia menolaknya (Yohanes 6:15). Dari sisi Yesus, ada kesadaran bahwa Ia tidak boleh dimuliakan sebelum waktunya (Yohanes 17:1). Oleh karena itu, kemuliaan yang dapat timbul dari keramaian dihindari oleh Yesus karena Ia ingin menjaga diri-Nya tetap berkenan kepada Bapa dan menerima kemuliaan Allah pada waktunya. Di sini kita melihat bahwa Yesus dalam keadaan-Nya sebagai manusia dapat berdosa, namun memilih untuk tidak jatuh ke dalam dosa. Hal ini memberi pelajaran kepada kita untuk tidak “memuliakan diri” di luar waktu Tuhan. Tuhan pasti akan memuliakan kita, tetapi bukan menurut waktu yang kita tentukan sendiri. Orang-orang yang berusaha memuliakan diri dengan waktunya sendiri pada hakikatnya sedang merebut kemuliaan Allah. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada terhadap kecenderungan tersebut. Layanilah perasaan Allah dalam sepi.
-
Melampaui Kenajisan
25 October 2026
Di tengah kisah tentang Yairus yang memohon kesembuhan anaknya kepada Yesus, Matius 9:20–22 mencatat perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan yang menderita sakit menahun. Dalam perjalanan menuju rumah Yairus, di tengah sesaknya jalan yang dipadati banyak orang, ada seorang perempuan yang memegang ujung jubah Yesus. Ia mencoba mencari sedikit belas kasihan Allah melalui Yesus untuk menyembuhkannya dari pendarahan yang telah dideritanya selama dua belas tahun. Bukan hanya fisiknya yang tergerus oleh penyakit, tetapi juga seluruh hartanya telah habis untuk biaya pengobatan (Markus 5:26). Namun, apabila kita mendalami konteks budaya masyarakat pada masa itu, perempuan yang sedang menderita tersebut tidak hanya berjuang melawan kerumunan orang untuk menunjukkan imannya, tetapi juga bergumul dengan sebuah pertanyaan besar: “Pantaskah aku?”
Pertanyaan itu muncul karena hukum Taurat yang dipegang oleh masyarakat saat itu menetapkan bahwa setiap perempuan yang mengalami lelehan darah adalah orang yang najis (Imamat 15:25). Dengan pendarahan yang berlangsung selama dua belas tahun, perempuan tersebut telah menjalani hari-hari panjang dalam penderitaan. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental, sosial, dan spiritual. Secara mental, ia tentu patah semangat karena kondisi tubuhnya tidak kunjung membaik meskipun telah menemui berbagai tabib. Secara sosial, ia terasing dan miskin interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Secara spiritual, kerinduannya untuk beribadah dan terhubung kembali dengan Tuhan tentu sudah memuncak. Namun, sekali lagi ia harus berhadapan dengan rasa minder akibat kenajisan yang menghantuinya ketika ingin mendekat kepada Yesus. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Lukas 8:47 menerangkan bahwa perempuan itu takut dan gemetar setelah perbuatannya diketahui.
Dalam ketakutan tersebut, ia mengakui apa yang telah dilakukannya. Menariknya, Yesus menunjukkan respons yang berada di luar ekspektasi perempuan tersebut. Berdasarkan hukum Taurat, mereka yang disentuh oleh orang najis juga ikut menjadi najis (Imamat 15:19). Bagi seorang rabi yang adalah pria, menjadi najis bukanlah sesuatu yang menyenangkan karena ia harus menjalani proses penyucian diri. Namun, alih-alih marah karena terpapar kenajisan, Yesus sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. Sebaliknya, Ia justru mengapresiasi iman perempuan tersebut kepada Allah.
Dalam kisah ini, Matius mempertemukan dua realitas yang tampak berlawanan: kenajisan dan kesucian. Dalam diri perempuan yang mengalami pendarahan, kenajisan bertemu dengan kesucian Sang Guru. Namun yang terjadi bukanlah kesucian yang dikalahkan oleh kenajisan, melainkan kenajisan yang ditelan oleh kesucian. Apa yang dianggap najis ditebus oleh kesucian Yesus. Di hadapan-Nya, orang-orang yang dianggap najis dan tidak pantas oleh sistem agama serta sosial yang diterapkan secara legalistis tetap merupakan jiwa-jiwa yang berharga dan layak untuk dipulihkan. Yesus melepaskan diri dari belenggu legalisme dan menghidupi Taurat berdasarkan esensinya, yaitu kasih. Ia tidak mengasingkan orang karena kondisi mereka. Sebaliknya, Ia merangkul dan menebus mereka.
Pada masa kini, tindakan mengasingkan orang lain masih sering muncul, meskipun tidak dalam bentuk yang seekstrem masyarakat Israel yang menjauhi orang dengan pendarahan. Menajiskan orang lain saat ini dapat tampak dalam perilaku mengucilkan seseorang karena batas-batas sosial yang kaku. Kejatuhan dunia ke dalam dosa membuat manusia membangun struktur sosial yang sering kali tidak adil. Ketika kita meminggirkan seseorang karena perbedaan suku, budaya, kelas sosial, gender, warna kulit, atau penampilannya, seolah-olah ada kelompok yang lebih unggul daripada yang lain, maka pada hakikatnya kita sedang menganggap orang tersebut najis. Bahkan ketika kita menolak menerima seseorang kembali dalam hati kita karena kesalahan atau luka yang pernah ia sebabkan, itu pun merupakan bentuk memandang orang lain sebagai najis.
Pertemuan antara kesucian Yesus dan kenajisan perempuan tersebut menggambarkan kepada kita bahwa apa yang dianggap najis oleh lingkungan sekitar harus kita rangkul dan tebus. Hal ini sejalan dengan panggilan kita sebagai garam dan terang dunia. Kita dipanggil untuk menggarami yang tawar dan menerangi yang gelap. Untuk itu, kita perlu berani “pergi” ke tempat-tempat yang dianggap tawar dan gelap, yakni najis. Orang yang telah ditebus oleh kesucian Kristus tidak lagi mempertahankan batas-batas sosial legalistis yang dibangun oleh masyarakat, melainkan harus melampauinya. Kita akan memandang mereka yang dipinggirkan dan diasingkan dengan penuh cinta dan belas kasih, bukan dengan rasa jijik atau penolakan.
-
Orangtua Sebagai Wakil Tuhan
24 October 2026
Sebutan orang tua sebagai “wakil Tuhan” tidak asing di telinga kita. Pada umumnya, kalimat tersebut digunakan untuk menasihati anak-anak agar menghormati orang tuanya. Sebutan “wakil Tuhan” menegaskan betapa besarnya peran orang tua terhadap anak-anak dan oleh karena itu anak-anak perlu menghormati orang tua dengan sungguh-sungguh. Tidak jarang sebutan ini digunakan untuk menyudahi suatu pertengkaran antara orang tua dan anak. Sebutan tersebut menegaskan otoritas orang tua atas kehidupan anak, sehingga anak harus mengikuti keputusan orang tua. Tentu sebutan orang tua sebagai wakil Tuhan tidak keliru, tetapi perlu dihayati dengan sungguh-sungguh mengingat bahwa itu adalah sebuah klaim yang serius.
Jika seseorang mengaku bahwa ia adalah wakil Tuhan, maka ia wajib mencerminkan Tuhan itu sendiri. Jangan sampai kita hanya menginginkan otoritas yang dibawa oleh sebutan tersebut, tetapi tidak menyadari adanya tanggung jawab besar di baliknya. Dengan meyakini bahwa orang tua adalah wakil Tuhan, maka kita terpanggil untuk berpikir dan berperasaan seperti Dia. Ini adalah sebuah panggilan pertobatan internal. Sebelum kita mengajar, kita perlu belajar. Sebelum kita hendak mewakili Tuhan, kita perlu “menjadi” seperti Tuhan. Sebab, dengan menyebut dirinya sebagai “wakil Tuhan,” anak akan menantikan seperti apakah Tuhan itu. Bisa jadi, orang tualah yang menjadi wajah pertama dan terakhir yang menurutnya menggambarkan Tuhan. Betapa celakanya apabila orang tua gagal menggambarkan wajah-Nya.
Menjadi wakil Tuhan juga berarti selalu tanggap dalam menjawab kebutuhan anak. Sebagaimana Allah yang kehadiran-Nya diwakili oleh Tuhan Yesus selalu tanggap terhadap kebutuhan kita, bahkan sebelum kita memintanya, demikian pula seharusnya orang tua sebagai wakil-Nya. Kebutuhan terbesar anak tentu dimulai dari sandang, pangan, dan papan. Namun, di balik ketiganya ada kebutuhan besar yang hadir bersamaan, yakni kehadiran kita sebagai orang tua. Sangat dapat dipahami, terlebih di kota-kota besar, apabila ada orang tua yang kesulitan untuk selalu hadir karena kesibukan. Namun, kesibukan tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menghadirkan waktu yang berkualitas bersama anak. Mereka perlu berinteraksi dengan orang tua untuk dapat mencicipi hadirat Allah, dan hal ini perlu diatur dengan sengaja. Jika interaksi dengan orang tua tidak ada, maka akan lebih sulit bagi seorang anak untuk memiliki koneksi dengan Allah pada masa mendatang. Sebab, ia telah memiliki gambaran tentang Allah yang sulit dijangkau, sebagaimana yang digambarkan oleh orang tuanya.
Kisah Yairus yang memohon kesembuhan bagi anaknya dalam Matius 9:18–19 tidak hanya menggambarkan belas kasihan dan kuasa Tuhan. Dari sudut pandang lain, kita dapat membaca kisah ini sebagai kisah seorang ayah yang hadir dan rela mengorbankan apa pun demi anaknya. Sebagai seorang pemimpin rumah ibadat, tentu Yairus memiliki nilai diri yang tinggi. Namun, nilai diri itu ia tanggalkan ketika berlutut di hadapan Yesus, seorang “guru jalanan” dan anak tukang kayu. Hal yang dapat dipandang memalukan bagi seorang pemimpin rumah ibadat justru ia lakukan demi anak tunggalnya. Tindakan Yairus dapat menggambarkan orang tua yang mencerminkan wajah Allah yang rela mengorbankan Anak-Nya demi dosa manusia. Yairus juga hadir dalam titik terendah kehidupan anaknya tanpa ragu mengorbankan waktu dan harga dirinya. Dalam hal ini, Yairus dapat dikatakan telah memberi gambaran tentang menjadi wakil Tuhan yang baik.
Sepenggal kisah Yairus memberikan pelajaran kepada setiap orang tua—tidak hanya mereka yang memiliki hubungan biologis dengan anak, tetapi juga setiap orang yang berada di sekitar anak-anak—tentang makna menjadi wakil Tuhan. Wakil Tuhan bukan sekadar sebutan yang mengandung otoritas, melainkan juga tanggung jawab moral dan spiritual. Di satu sisi, dengan menyadari betapa seriusnya panggilan ini, setiap kita dipanggil untuk terus membenahi diri dan hadir dalam kehidupan setiap anak. Kitalah kitab-kitab terbuka yang dapat menjelaskan siapakah Allah kepada mereka yang belum dapat memahami atau mengalami Allah secara langsung. Di sisi lain, betapa terhormatnya kita apabila memiliki kesempatan untuk mencerminkan wajah Allah bagi manusia-manusia kecil yang baru belajar tentang kehidupan.
-
Berharga Jiwa Seorang Anak
23 October 2026
Dengan pesatnya perkembangan teknologi dewasa ini, informasi begitu cepat sampai ke tangan kita. Baik informasi yang berupa kabar baik maupun kabar buruk dengan sigap menyerbu gawai kita. Hati kita mulai gusar ketika menerima kabar buruk, apalagi yang menyentuh sisi kemanusiaan kita. Salah satunya adalah berita tentang anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Entah karena orang tua tersebut mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, desakan ekonomi, permasalahan emosional, atau alasan lainnya. Pernah beredar di media sosial sebuah berita tentang bayi yang berusia kurang dari satu minggu ditemukan di semak-semak di tepi jalan di Sumatra tanpa sehelai kain yang menempel di tubuhnya. Berita tentang anak yang ditelantarkan selalu membuat kita bertanya-tanya, bagaimana mungkin ada orang tua yang tega melakukan hal tersebut kepada manusia kecil yang tidak berdaya.
Namun, disadari atau tidak, meskipun kita tidak menelantarkan anak dalam kasus ekstrem seperti di atas, kita sering kali kurang menghargai jiwa seorang anak. Hal tersebut ditunjukkan atau dimulai dengan gestur sederhana, misalnya lebih memilih meninggalkan anak dengan gawainya agar kita tidak dipusingkan dengan keharusan berinteraksi dan bermain dengannya. Sungguh dapat dipahami apabila dalam situasi tertentu, misalnya seorang orang tua tunggal (single parent) yang harus bekerja, terkadang mau tidak mau harus membiarkan anaknya lebih banyak berinteraksi dengan gawai. Apalagi jika tidak ada yang membantu pekerjaan di rumah. Situasi-situasi sulit semacam itu terkadang dapat dipahami karena kompleksitas yang tidak mudah diurai. Akan tetapi, hendaknya kesibukan tidak menjadi alasan untuk membiarkan anak bersama gawai tanpa pengawasan dan batasan yang jelas. Peran dan kehadiran orang tua tidak dapat digantikan oleh apa pun. Ada rongga kosong dalam jiwa anak yang hanya dapat dibentuk oleh orang tua yang mengasihi Tuhan.
Dalam Alkitab, kita menemukan seorang kepala rumah ibadah bernama Yairus. Matius 9:18–19 mengisahkan bahwa Yairus begitu sedih karena anak perempuannya sedang sekarat dan hampir mati. Bahkan di Lukas 8:41–42 menjelaskan bahwa anak itu adalah anak perempuan satu-satunya dari Yairus yang berumur dua belas tahun. Dalam keputusasaan, Yairus mendatangi Yesus untuk memohon belas kasihan agar anaknya dapat disembuhkan. Bahkan dalam narasi Matius, anak tersebut dianggap sudah meninggal dan Yesus diminta untuk membangkitkannya. Menarik melihat respons Yesus terhadap permohonan Yairus ini. Pada ayat ke-19 digambarkan bahwa Yesus langsung bangun dan pergi ke rumah Yairus untuk menjumpai anaknya. Tidak ada dialog panjang dari Yesus yang dicatat dalam kisah versi Matius. Hal ini menunjukkan penekanan tentang pribadi Yesus yang sangat peduli terhadap jiwa seorang anak. Tanpa mengulur waktu, Ia mengarahkan langkah-Nya secepat mungkin menuju anak itu. Ia tahu kehadiran-Nya dinantikan dan tidak dapat digantikan oleh siapa pun.
Sikap Yesus seharusnya menjadi sikap kita sebagai orang tua. Orang tua tidak hanya menunjuk pada mereka yang memiliki relasi biologis dengan seorang anak, tetapi juga setiap kita yang berada di sekitar anak-anak. Kita adalah para “orang tua” yang mereka percayai dan tiru. Mereka sungguh menantikan kehadiran kita sebagai orang-orang yang menghadirkan wajah Tuhan bagi mereka. Jika kita menunda untuk hadir dan bersama mereka, dunia dengan segala keindahannya akan dengan senang hati bergegas menghampiri mereka melalui berbagai konten di layar kaca. Yesus memberi kita teladan tentang kesigapan untuk menarik mereka dari gelapnya kerajaan maut.
Memang tidak mudah untuk berinteraksi dengan seorang anak, apalagi jika ia masih kecil. Interaksi dengan mereka dapat menghabiskan “baterai mental” kita. Belum lagi jika anak itu aktif bergerak; tenaga kita juga ikut terserap olehnya. Namun, tidak ada orang yang mengasihi Tuhan dan berhasil dalam hidupnya secara tiba-tiba. Anak-anak kita tidak dapat berhasil dalam kehidupan rohani maupun jasmaninya tanpa bantuan orang-orang dewasa di sekitarnya. Apa yang kita lakukan kepada setiap anak adalah “investasi” terhadap masa depannya. Investasi tersebut akan dituai cepat atau lambat. Oleh karena itu, mari kita sungguh berhati-hati dengan apa yang kita investasikan dalam hidup seorang anak. Jangan sampai kita hanya menginvestasikan uang dan kemewahan hidup, tetapi gagal menginvestasikan Tuhan dalam hidup mereka.
-
Ragi Legalisme (2)
22 October 2026
Masalah lain yang ditimbulkan oleh legalisme adalah memperlakukan semua orang dalam segala kondisi dengan perlakuan yang sama. Perlakuan yang sama di sini maksudnya tidak mengindahkan kerumitan dan kesulitan hidup setiap individu yang melahirkan perbedaan. Semua orang diukur dengan ukuran yang sama tanpa memedulikan latar belakang atau konteks setiap individu. Hal ini melahirkan sebuah cara pandang biner terhadap kehidupan manusia; hanya hitam atau putih, salah atau benar. Dengan menyatakan hal ini, tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengukur dengan pandangan biner, misalnya benar atau salah. Tentu penilaian semacam itu adalah konsekuensi logis dan kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, menerapkan pandangan yang sempit terhadap kompleksitas hidup manusia adalah suatu hal yang mereduksi cara kita menilai segala sesuatu. Inilah ragi legalisme.
Dalam Matius 9:16–17, Tuhan Yesus melanjutkan penjelasan mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa. Ia menjelaskan demikian: “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.”
Melalui kedua ayat tersebut, Tuhan Yesus hendak berbicara tentang adanya perbedaan antara mereka yang menuruti hukum Taurat dan mereka yang menuruti hukum Roh. Baju yang tua dan kantong anggur yang tua melambangkan kelompok orang yang berpegang pada hukum Taurat atau Yudaisme, yang dalam konteks ini menunjuk kepada orang-orang Farisi dan murid-murid Yohanes yang sedang bertanya kepada Yesus. Sedangkan kain penambal yang baru dan anggur yang baru menunjuk kepada para pengikut Kristus dan gereja-Nya yang kemudian hari akan mengikuti tuntunan Roh. Hal ini tidak bermaksud bahwa mereka yang mengikuti tuntunan Roh kemudian mengabaikan Taurat. Mereka yang mengikuti tuntunan Roh justru melampaui Taurat dalam esensinya. Memang fitur-fitur budaya dan seremonial dalam Taurat tidak lagi diikuti oleh orang percaya, misalnya sunat. Akan tetapi, jiwa Taurat yang mengajarkan untuk mengasihi Allah dan sesama dihidupi dengan lebih utuh dalam tuntunan Roh. Bagi Yesus, mereka yang menuruti hukum atau tuntunan Roh akan sangat berbeda dengan mereka yang hanya menuruti Taurat.
Tuntunan Roh akan membuat seseorang peka terhadap kompleksitas dan perbedaan masing-masing individu. Pertimbangan seseorang yang dituntun oleh Roh akan menjadi lebih mendalam karena mempertimbangkan bukan hanya yang tampak, tetapi juga yang tidak tampak. Misalnya, jika dalam hukum Taurat berzina dipahami sebagai berhubungan badan dengan yang bukan pasangannya, maka mereka yang hidup dalam Roh tidak hanya dihakimi berdasarkan tindakan lahiriah tersebut. Ketika sudah ada gairah untuk mengingini pasangan orang lain dalam pikiran, hal itu sudah dianggap sebagai perzinaan. Di sini ada sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh hukum Taurat karena keterbatasannya sebagai suatu hukum.
Hal demikianlah yang hendak dijelaskan oleh Yesus kepada murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi. Berpuasa bukanlah sekadar tindakan agamawi, apalagi suatu kewajiban tanpa kerinduan. Berpuasa haruslah sesuatu yang lahir dari pergumulan pribadi yang paling mendalam. Inilah yang tidak dipahami oleh murid-murid Yohanes yang bertanya kepada Yesus. Mereka berpandangan bahwa semua orang harus melakukan hal yang sama, dengan atau tanpa dorongan batiniah. Terhadap kesulitan ini, Yesus menegur mereka sebagai kantong kulit tua yang tidak dapat menerima anggur baru.
Ragi legalisme ini perlu kita waspadai dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita tergolong sebagai kantong kulit tua yang tidak mampu menerima anggur baru. Anggur baru itu adalah tuntunan Roh Kudus. Hidup dalam legalisme tidak memungkinkan kita untuk menerima tuntunan Roh. Oleh karena itu, kita perlu membuka pikiran dan hati seluas mungkin untuk menerima kehendak Roh. Hal ini berimplikasi pada penerimaan kita terhadap sesama yang dianggap “bersalah.” Dengan membuang ragi legalisme, kita dapat melihat sesama yang bersalah sebagai orang yang masih dapat diubah. Kita mempertimbangkan kompleksitas dan konteks individu tersebut, bahwa tidak ada orang yang bercita-cita untuk bersalah. Pada akhirnya, kita dimampukan untuk menerima dan merangkul setiap orang sebagaimana Yesus menerima dan merangkul mereka.
-
Ragi Legalisme (1)
21 October 2026
Kita tentu sangat akrab dengan kerahasiaan ibadah di hadapan Allah. Pada umumnya, seluruh agama setuju bahwa ibadah atau pengabdian kepada Allah ditunjukkan melalui cara yang tersembunyi. Ibadah atau pengabdian seseorang di hadapan Allah tidak untuk dipamerkan atau bahkan disombongkan. Ibadah yang diumbar di depan publik adalah kemunafikan, dan hal demikian tidak berkenan di hadapan Allah. Misalnya, ketika seseorang hendak membantu orang lain, ia harus sebisa mungkin menyembunyikannya. Namun, bagaimana jika suatu kegiatan ibadah memang sudah menjadi suatu rutinitas publik sehingga mereka yang tidak melakukannya dianggap bersalah?
Dalam Matius 9:14–17 terdapat suatu kisah tentang murid-murid Yohanes yang bertanya kepada Yesus mengenai murid-murid-Nya yang tidak berpuasa. Pada ayat ke-14 lahir suatu pertanyaan dari murid-murid Yohanes Pembaptis kepada Yesus: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Pertanyaan ini dapat ditafsirkan dalam dua cara. Pertama, mungkin saja murid-murid Yohanes tersebut memang hanya ingin tahu tanpa ada tendensi tertentu. Kedua, mereka memang dengan sengaja ingin mengonfrontasi Yesus dan murid-murid-Nya karena tidak melakukan apa yang telah menjadi konsensus umum. Yang pertama sifatnya netral, sedangkan yang kedua mengandung maksud untuk mengkritik Yesus. Dilihat dari konteks dekatnya pada ayat sebelumnya, sangat besar kemungkinan pertanyaan tersebut merupakan kritik kepada Yesus dan murid-murid-Nya. Pada ayat sebelumnya, orang-orang Farisi mengkritik Yesus yang makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa. Ayat ke-14 ini hadir sebagai sambungan dari peristiwa tersebut. Jadi, besar kemungkinan bahwa Rasul Matius memang menempatkan kisah ini sebagai satu rangkaian kritik terhadap Yesus.
Terhadap kritik tersebut, Tuhan Yesus menjawab, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Di sinilah Tuhan Yesus menjawab kritik tersebut dengan sebuah pertanyaan yang tepat menghujam legalisme murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi pada hari itu. Legalisme adalah paham yang menekankan kepatuhan yang kaku, literal, atau berlebihan terhadap hukum, aturan, atau kode moral maupun agama. Alih-alih merasa bersalah dan segera menetapkan jadwal berpuasa, Yesus memberikan jawaban yang menekankan otentisitas ibadah.
Tuhan Yesus mengibaratkan murid-murid-Nya sebagai sahabat mempelai pria. Dalam tradisi Israel, selama masa menyambut pernikahan, para sahabat mempelai pria akan bersukacita bersama sang mempelai. Tidak lazim bagi orang Israel untuk melakukan hal yang sebaliknya. Berdukacita melalui ratap tangis dilakukan pada saat-saat tertentu, seperti kematian anggota keluarga ataupun saat berpuasa. Dalam Alkitab, kita menemukan kebiasaan serupa ketika orang yang berpuasa digambarkan berada dalam suasana dukacita (2 Samuel 1:12; 12:22; Nehemia 9:1; Daniel 9:3). Di sini terdapat semacam kesepahaman bahwa berpuasa sejajar dengan berada dalam perasaan dukacita. Oleh karena itu, tidak heran apabila Tuhan Yesus berkata bahwa jika mempelai pria (menunjuk kepada Yesus sendiri) masih bersama para sahabat-Nya, maka mereka belum berpuasa. Namun, ketika nanti mempelai itu diambil dari mereka, yang menunjuk pada masa setelah kematian Yesus, barulah mereka akan berpuasa.
Melalui perumpamaan tersebut, Yesus hendak menekankan bahwa ibadah bukan dilakukan karena semua orang sedang melakukan hal yang sama, melainkan harus timbul dari hati yang tulus dan merindu untuk melakukan ibadah itu sendiri. Berpuasa ketika Yesus masih bersama para murid pada akhirnya hanya bertujuan untuk menyenangkan massa. Bukan berarti bahwa beribadah dalam kebiasaan adalah suatu hal yang keliru. Namun, beribadah hanya karena suatu kebiasaan yang kering dari kerinduan, itulah yang ditentang oleh Yesus.
Kita harus sungguh mewaspadai seluruh motivasi kita dalam melakukan sesuatu yang dilabeli “rohani.” Kita perlu dengan sungguh-sungguh memperkarakan apakah yang kita lakukan tersebut dilandasi oleh kerinduan dan cinta kita kepada Tuhan. Tanpa kerinduan dan cinta, segala aktivitas rohani yang kita lakukan di hadapan Tuhan minim makna. Ibadah dan segala kegiatan rohani hanya menjadi tindakan membeo dalam kurungan legalisme. Tekanannya pada “aku harus,” bukan “aku haus.”
-
Ketika Orang Sakit Merasa Sehat
20 October 2026
Matius 9:12-13
Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Keadaan rohani yang paling berbahaya adalah ketika seseorang berbuat dosa tetapi merasa dirinya benar. Orang yang sadar sedang sakit masih dapat mencari pertolongan. Sebaliknya, orang sakit yang merasa sehat akan menolak tabib dan menganggap pengobatan tidak diperlukan. Inilah keadaan orang-orang Farisi ketika mereka melihat Yesus makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa. Mereka dapat mengenali kesalahan orang lain dengan cepat. Mereka mengetahui siapa yang dianggap najis, siapa yang melanggar batas, dan siapa yang tidak pantas masuk ke dalam persekutuan. Namun, ketelitian itu tidak disertai kemampuan melihat keadaan hati sendiri. Mereka menganggap ketaatan terhadap aturan dan persembahan keagamaan sebagai bukti bahwa mereka sehat di hadapan Allah. Padahal, sikap menghakimi, kesombongan, dan ketiadaan belas kasihan memperlihatkan penyakit rohani yang serius.
Yesus menjawab mereka dengan gambaran tentang tabib dan orang sakit. Ia datang kepada orang berdosa karena dosa merupakan penyakit jiwa yang harus disembuhkan. Seorang dokter yang baik tidak membenci pasien karena penyakitnya, tetapi ia juga tidak membiarkan penyakit itu tanpa penanganan. Demikian pula, belas kasihan Allah menerima orang-orang berdosa untuk membawa mereka kepada pertobatan. Perkataan “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” tidak berarti ada orang yang sama sekali tidak membutuhkan keselamatan. Masalahnya, sebagian orang mengakui penyakitnya, sedangkan sebagian lain menyembunyikannya di balik penampilan agama. Pemungut cukai mengetahui buruknya reputasi mereka; di sisi lain, orang Farisi merasa tidak memiliki persoalan. Karena merasa benar, mereka tidak membuka diri terhadap koreksi dan akhirnya menolak pekerjaan Allah yang hadir di depan mereka.
Kemudian Yesus berkata, “Pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.” Perkataan ini sangat tajam karena disampaikan kepada orang-orang yang menganggap diri mereka ahli dalam Kitab Suci. Mereka mengetahui teksnya, tetapi belum memahami hati Allah. Pengetahuan yang tidak mengubah watak dapat melahirkan kesombongan rohani. Seseorang dapat rajin beribadah, memberi persembahan, menguasai doktrin, dan aktif melayani, tetapi tetap keras, tidak mengampuni, dan tidak peduli terhadap orang yang terhilang. Belas kasihan menjadi ujian apakah kehidupan keagamaan kita sungguh berpusat pada Allah atau pada pencitraan diri. Persembahan dapat dilihat orang, pengetahuan dapat mengundang kekaguman, dan pelayanan dapat dipuji. Namun, belas kasihan sering dilakukan tanpa sorotan. Ia menuntut kita merendahkan diri seraya memikul beban orang lain. Di sanalah keadaan hati kita tersingkap.
Allah tidak sedang meniadakan ibadah atau persembahan. Ia menolak ibadah yang dipisahkan dari ketaatan dan belas kasihan. Aktivitas keagamaan tidak dapat menggantikan kehidupan yang benar. Kita tidak dapat menutupi kepahitan dengan pelayanan, mengganti kejujuran dengan persembahan, atau merasa suci hanya karena tidak melakukan dosa yang dilakukan orang lain. Ukuran kebenaran bukanlah perbandingan dengan orang yang lebih buruk, melainkan kesesuaian hidup kita dengan kehendak Bapa.
Karena itu, sebelum menunjuk penyakit rohani orang lain, izinkan firman memeriksa diri kita. Apakah kita mudah merendahkan mereka yang latar belakangnya buruk? Apakah kita merasa lebih layak diterima Allah karena kedudukan, pelayanan, atau pengetahuan teologi? Apakah kita mempertahankan ritual keagamaan tetapi menolak mengampuni? Sikap seperti itu menunjukkan bahwa kita membutuhkan Sang Tabib sama seriusnya dengan orang yang kita hakimi. Mengalami belas kasihan Allah seharusnya menjadikan kita pembawa belas kasihan. Belas kasihan yang benar berani menyebut dosa sebagai dosa, tetapi tetap membuka jalan pertobatan bagi pelakunya. Ia tidak mempermalukan orang untuk meninggikan diri, tetapi menolong orang bangkit dan kembali kepada kehendak Allah.
